
Akhir November 2025, banjir dan tanah longsor menerjang tiga provinsi sekaligus: Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Dampaknya besar dan memanjang. Rekap Poskoordinasi Nasional (PoskoorNas) MDMC per 23 Desember 2025 mencatat 1.112 orang meninggal, 7.000 luka, 176 hilang, dan 498.447 jiwa mengungsi. Di saat yang sama, 158.096 rumah dilaporkan rusak, dari rusak ringan hingga rusak berat, disertai kerusakan ratusan fasilitas umum seperti sekolah, jembatan, dan tempat ibadah.
logistik
Oleh: ‘Aabidah Ummu ‘Aziizah (Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah)
Akhir November 2025, banjir dan tanah longsor menerjang tiga provinsi sekaligus: Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Dampaknya besar dan memanjang. Rekap Poskoordinasi Nasional (PoskoorNas) MDMC per 23 Desember 2025 mencatat 1.112 orang meninggal, 7.000 luka, 176 hilang, dan 498.447 jiwa mengungsi. Di saat yang sama, 158.096 rumah dilaporkan rusak, dari rusak ringan hingga rusak berat, disertai kerusakan ratusan fasilitas umum seperti sekolah, jembatan, dan tempat ibadah.
Di titik-titik inilah tema Milad ke-113 Muhammadiyah, “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, terasa sangat konkret. Kesejahteraan tidak sedang dibicarakan sebagai konsep besar di panggung, melainkan dikerjakan dalam ritme lapangan yakni dengan cara memastikan keluarga penyintas bisa makan hari ini, bisa berobat, bisa memperoleh air bersih, dan perlahan-lahan bisa kembali merasa aman.
Dalam diskusi kebijakan sosial, “kesejahteraan” biasanya terbaca setidaknya dalam dua lapis. Pertama, welfare: jaring pengaman dan layanan dasar yang membuat orang bertahan melalui logistik, layanan kesehatan, air bersih, hunian darurat, sampai dukungan perlengkapan keluarga. Kedua, well-being: pemulihan psikologis dan sosial melalui pemberian rasa aman, dukungan psikososial, ruang untuk bercerita, dan daya lenting agar penyintas sanggup memulai ulang.
Kerja kemanusiaan Muhammadiyah di Sumatra menarik karena menggabungkan dua lapis ini. Lewat sinergi MDMC sebagai garda respons bencana dan Lazismu sebagai penguatan logistik serta penghimpunan dana, respon tidak berhenti pada “bantuan datang”, tetapi bergerak sistematis dari tanggap darurat hingga pemulihan awal.
Data PoskoorNas MDMC (26 November–23 Desember 2025) menunjukkan welfare dikerjakan dalam skala nyata. Distribusi logistik menjangkau 15.140 jiwa. Makanan siap saji tersalurkan kepada 10.972 jiwa. Pelayanan kesehatan mencapai 7.483 jiwa. Program WASH (air bersih dan sanitasi) menyasar 606 jiwa, disusul dukungan shelter/hunian bagi 176 jiwa. Total penerima manfaat seluruh layanan tercatat 37.062 jiwa.
Rincian lapangan memperlihatkan bahwa angka-angka itu bukan sekadar statistik. Di Sumatera Barat, dapur umum melayani sekitar 10.940 jiwa, tersebar antara lain di Agam, Palembayan, Pesisir Selatan, Bukittinggi, dan Tanjung Raya. Layanan kesehatan menjangkau 2.307 jiwa di berbagai korong dan nagari, sementara distribusi logistik menyentuh 3.896 jiwa. Ada pula respons berbasis kebutuhan spesifik, seperti pembangunan jembatan darurat (3 unit) dan pembersihan fasilitas yang terdampak.
Di Sumatera Utara, logistik menjangkau 6.856 jiwa, termasuk di Langkat, Binjai, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, hingga kawasan Batang Toru. Pelayanan kesehatan tercatat 1.627 jiwa, dengan dapur umum melayani 830 jiwa. Di Aceh, logistik menyentuh 4.388 jiwa; dapur umum 1.202 jiwa; dan pelayanan kesehatan 3.549 jiwa, tersebar di titik-titik seperti Lhoksumawe, Aceh Utara, Bireun, Aceh Tamiang, hingga Gayo Lues.
Dengan cara ini, kesejahteraan sebagai welfare bekerja sebagai “penyangga kehidupan”: mencegah krisis lanjutan di pengungsian, menutup kebutuhan paling mendasar, dan menjaga martabat penyintas agar tidak jatuh pada kondisi serba tidak layak.
Namun bencana tidak hanya merusak bangunan, ia menggerus rasa aman. Anak-anak mudah kaget, orang tua menahan cemas, dan banyak keluarga kehilangan kontrol atas kehidupan sehari-hari. Di sinilah lapis well-being menjadi kunci, dan inilah bagian yang sering terlewat jika respons bencana hanya dibaca sebagai urusan logistik.
Masih dalam rekap PoskoorNas, layanan psikososial hingga 19 Desember 2025 menjangkau 2.182 jiwa. Di Sumatera Barat, penerima manfaat psikososial tercatat 998 jiwa, antara lain di Palembayan, Kabupaten Agam, Desa Pancung Taba, dan Tanjung Raya. Di Sumatera Utara, layanan psikososial menyasar 858 jiwa termasuk di Langkat, Batu Hula, Batang Toru, dan beberapa pos pengungsian. Di Aceh, layanan psikososial tercatat 326 jiwa, meliputi Gayo Lues, Leubuk Siur, Uyem Beriring, dan Aceh Utara.
Di lapangan, dukungan psikososial biasanya hadir dalam bentuk yang sangat manusiawi seperti ruang bermain dan pemulihan untuk anak, pendampingan keluarga, penguatan dukungan sosial antarpenyintas, hingga bimbingan ibadah yang menolong orang menemukan pijakan batin. Bahkan layanan yang tampak “kecil” seperti wifi gratis (165 jiwa) ikut memberi efek psikologis, sebab mampu membantu penyintas terhubung dengan keluarga, mengakses informasi, dan menata ulang rasa aman.
Jika welfare menolong orang bertahan, maka well-being menolong orang kembali hidup, kembali punya harapan, kembali sanggup merencanakan hari esok, dan kembali percaya bahwa mereka tidak ditinggalkan.
Pada akhirnya, “Memajukan Kesejahteraan Bangsa” tidak selalu dimulai dari proyek besar. Ia sering berangkat dari titik paling rapuh seperti posko pengungsian, dapur umum, layanan kesehatan darurat, dan sesi psikososial yang membuat seseorang mampu menghela napas panjang setelah berhari-hari cemas.
Kerja Muhammadiyah di Sumatra menunjukkan bahwa kesejahteraan bisa dikerjakan secara utuh, welfare dan well-being berjalan beriring. Inilah model gerak yang relevan untuk bangsa, cepat dalam tanggap darurat, rapi dalam koordinasi, dan peka pada pemulihan jiwa. Karena setelah banjir surut dan longsor dibersihkan, yang tersisa adalah pekerjaan panjang yakni memulihkan kehidupan. Dan di situlah kesejahteraan diuji, apakah kita hanya menolong orang bertahan, atau juga menolong mereka kembali punya masa depan.
Di tengah musibah, Al-Qur’an memberi bahasa batin yang meneguhkan
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali” (QS al-Baqarah [2]:156).
Dan saat keteguhan itu diterjemahkan menjadi tindakan, ukurannya jelas
“barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, seakan-akan ia telah memelihara kehidupan manusia semuanya” (QS al-Mā’idah [5]:32).
Dari sinilah kerja-kerja Muhammadiyah di Sumatra menemukan ruhnya, menolong yang terdampak agar kembali hidup, pulih, dan berdaya.
Catatan sumber: Laporan Situasi Poskoordinasi Nasional Respon Bencana Banjir dan Tanah Longsor Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, 24 Desember 2025 (MDMC PP Muhammadiyah).
sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/01/dari-logistik-ke-trauma-healing-kesejahteraan-milad-113-yang-bekerja-di-sumatra/